Mengapa Kita Berqurban?
Setiap tahun, menjelang Idul Adha, pertanyaan ini kembali relevan, bukan hanya bagi yang baru pertama kali berqurban, tapi juga bagi yang sudah bertahun-tahun melakukannya. Karena ibadah yang dilakukan tanpa pemahaman hanya akan menjadi rutinitas.
Jadi, mengapa kita berqurban?
Perintah yang Jelas
Dasar qurban dalam Islam bukan tradisi turun-temurun yang kemudian disyariatkan. Ia datang langsung dari perintah Allah dalam Al-Qur’an:
“Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.” — QS. Al-Kautsar: 2
Ayat ini singkat, tapi tegas. Shalat dan qurban disebut dalam satu napas. Keduanya adalah bentuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Barangsiapa yang memiliki kelapangan (harta) namun tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” — HR. Ibnu Majah dan Ahmad
Para ulama berbeda pendapat soal hukumnya, sebagian menyebut wajib bagi yang mampu, sebagian menyebut sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Tapi tidak ada yang meragukan bahwa bagi yang mampu, meninggalkannya adalah kehilangan yang nyata.
Mengikuti Jejak Ibrahim
Qurban tidak bisa dilepaskan dari kisah Nabi Ibrahim عليه السلام. Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih putranya, Ismail. Dan Ibrahim, dengan segala beratnya, memilih taat. Di saat itulah Allah mengganti Ismail dengan seekor domba dari surga.
“Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya, Kami panggil dia: ‘Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan Kami tebus dia dengan sembelihan yang besar.” — QS. As-Saffat: 104–107
Qurban adalah cara kita setiap tahun menyatakan: kami mengingat ketaatan itu, dan kami ingin mengambil bagian darinya.
Apa yang Sesungguhnya Kita Persembahkan
Ada salah paham yang perlu diluruskan, yakni bahwa qurban adalah soal daging atau darah hewan yang sampai kepada Allah. Al-Qur’an menjawab langsung:
“Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” — QS. Al-Hajj: 37
Yang Allah terima bukan hewannya. Yang Allah terima adalah keputusan kita untuk memprioritaskan ketaatan di atas kenyamanan untuk merelakan sesuatu yang bernilai demi sesuatu yang lebih bernilai.
Dimensi Sosial yang Tak Terpisahkan
Qurban bukan ibadah yang selesai di kandang pemotongan. Dagingnya dibagi kepada keluarga, kepada tetangga, dan terutama kepada mereka yang tidak mampu. Ini bukan formalitas, tapi inti dari ibadah itu sendiri.
Di banyak keluarga dan komunitas, Idul Adha adalah satu-satunya hari dalam setahun di mana mereka bisa makan daging dengan bebas. Qurban menjadi jembatan antara yang berkecukupan dan yang tidak. Bukan dalam bentuk belas kasihan, tapi dalam bentuk persaudaraan yang diperintahkan Allah.
Siapa yang Wajib Berqurban?
Para ulama umumnya menetapkan beberapa syarat:
- Muslim — qurban adalah ibadah khusus umat Islam
- Merdeka — bukan dalam kondisi perbudakan (konteks fiqh klasik)
- Mampu — memiliki harta melebihi kebutuhan pokok diri dan keluarga selama hari raya
Yang dimaksud “mampu” bukan harus kaya. Jika seseorang memiliki kelebihan harta yang cukup untuk membeli hewan qurban tanpa mengganggu kebutuhan dasarnya, maka anjuran qurban sudah berlaku baginya.
Satu ekor kambing atau domba mencukupi untuk satu orang atau satu keluarga. Satu ekor sapi atau unta dapat diniatkan atas nama hingga tujuh orang.
Penutup
Qurban bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah pernyataan ulang setiap tahun bahwa kita masih mau taat, masih mau berbagi, dan masih mengingat dari mana semua yang kita miliki ini berasal.
Semoga kita termasuk yang dimampukan untuk menunaikannya — dan semoga niat yang kita bawa lebih besar dari sekadar memenuhi kewajiban.
Artikel ini ditulis sebagai pengantar umum. Untuk fatwa dan ketentuan spesifik sesuai kondisi kamu pribadi, kami menganjurkan untuk berkonsultasi langsung dengan ulama atau lembaga fatwa terpercaya.